What Is Branding?
Are you sure that you got it right?
Thursday, May 7, 2020
Analisis Sentimen Penilaian Tempat Tujuan Wisata Kota Tegal Berbasis Text Mining
.
Abstract
Mendapatkan sebuah informasi untuk meningkatkan pelayanan dan strategi dalam pengelolaan tempat kunjungan wisata masih sedikit dan sulit dikarenakan informasi yang didapatkan masih terbatas.
Media sosial memiliki peranan dalam memberikan sebuah data terhadap penilaian kunjungan wisata, sama halnya dengan tempat-tempat wisata yang berada di wilayah Tegal dan sekitarnya.
Pada penelitian ini model sentiment analysis diusulkan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan.
Tujuan dari penelitian ini adalah mencari model sistem untuk memberikan sebuah informasi pendukung keputusan bagi para wisatawan dan pengelola tempat wisata untuk dijadikan sumber informasi terhadap tempat wisata yang ada.
Metode penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan eksperimen untuk mendapatkan model yang diharapkan.
Pada penelitian ini metode Naïve Bayes dan Decision Tree diterapkan untuk klasifikasi teks sehingga mendapatkan model terbaik yang dihasilkan untuk diimplementasikan pada sistem sehingga model yang didapatkan dapat dijadikan sebuah sistem pendukung keputusan untuk pengembangan sistem cerdas pada pihak terkait dalam upaya peningkatan nilai jual potensi daerah khususnya bidang pariwisata.
Hasil penelitian menunjukan bahwa model yang didapatkan setelah dilakukan eksperimen didapatkan tingkat akurasi naïve bayes menghasilkan 77,50% lebih baik dibandingkan dengan menggunakan Decision Tree yang menghasilkan tingkat akurasi 60,83%.
.
https://www.researchgate.net/publication/335016505_Analisis_Sentimen_Penilaian_Tempat_Tujuan_Wisata_Kota_Tegal_Berbasis_Text_Mining
Optimasi Suffix Tree Clustering dengan Wordnet dan Named Entity Recognition untuk Pengelompokan Dokumen
.
Abstrak
Semakin meningkatnya jumlah dokumen teks di dunia digital mempengaruhi banyaknya jumlah informasi dan menyebabkan kesulitan dalam proses temu kembali informasi (information retreival).
Clustering dokumen merupakan suatu bidang text mining yang penting dan dapat digunakan untuk mengefisienkan dalam pengelolaan teks serta peringkasan teks.
Namun beberapa permasalahan muncul dalam clustering dokumen teks terutama dalam dokumen berita seperti ambiguitas dalam content, overlapping cluster, dan struktur unik yang terdapat dalam dokumen berita.
Penelitian ini mengusulkan metode baru yaitu optimasi Suffix Tree Clustering (STC) dengan WordNet dan Named Entity Recognition (NER) untuk pengelompokan dokumen.
Metode ini memiliki beberapa tahap, yaitu prepocessing dokumen dengan mengekstraksi named entity serta melakukan deteksi sinonim berdasarkan WordNet.
Tahap kedua adalah pembobotan term dengan tfidf dan nerfidf.
Tahap ketiga adalah melakukan clustering dokumen dengan menggunakan Suffix Tree Clustering.
Berdasarkan pengujian didapatkan rata-rata nilai precision sebesar 79.83%, recall 77.25%, dan f-measure78.30 %.
Kata kunci: Clustering dokumen, Named Entity Recognition, Suffix Tree Clustering, WordNet
.
https://www.researchgate.net/publication/322735269_Optimasi_Suffix_Tree_Clustering_dengan_Wordnet_dan_Named_Entity_Recognition_untuk_Pengelompokan_Dokumen
Text Mining pada Sosial Media untuk Mendeteksi Emosi Pengguna Menggunakan Metode Support Vector Machine dan K-Nearest Neighbour
.
Twitter layanan jejaring sosial dan mikroblog yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan berbasis teks hingga 140 karakter, yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet).
Sebuah teks pada tweet tidak hanya menyampaikan keterangan dari suatu informasi, tetapi juga berisi informasi tentang perilaku manusia termasuk emosi.
Untuk mendeteksi emosi dari teks pada layanan sosial media twitter dengan data yang tidak terstruktur maka perlu dilakukan analisis teks salah satunya dengan menggunakan Text Mining.
Pada penelitian ini mengusulkan melakukan penelitian text mining pada Sosial Media untuk mendeteksi emosi pengguna.
Deteksi emosi berbasis teks dapat digunakan dalam bisnis, pendidikan, psikologi, dan bidang lain mana pun yang paling penting untuk memahami dan menafsirkan emosi.
Tahapan penelitian ini melalui beberapa tahapan yaitu data. Dari Pengujian yang dilakukan dengan metode Support Vector Machine dan K-Nearest Neighbour dapat menghasilkan nilai rata-rata precision sebesar 0.45640904478933. nilai recall sebesar 0.50199332258158 dan pada nilai accuracy sebesar 0.8140589569161 sedangkan dari metode K-Nearest Neighbour nilai rata-rata precision sebesar 0.34210487225193. nilai recall sebesar 0.45954538381009 dan pada nilai accuracy sebesar 0.79705215419501. hasil dari pengujian dengan metode SVM-KNN menunjukkan bahwa kesesuaian klasifikasi emosi lebih baik daripada metode K-Nearest Neighbour dari keseluruhan kategori emosi.
I. PENDAHULUAN
Data tidak terstruktur banyak terdapat pada layanan sosial media.
Layanan sosial media merupakan penyedia sumber daya yang menyediakan data yang cukup besar.
Media sosial banyak menyita perhatian masyarakat karena dianggap dapat menjadi tempat untk berbagi karya, ide, opini tentang isu-isu yang terjadi secara bebas, dan media untuk mengungkapkan berbagai hal mengenai kehidupan pribadinya.
Salah satu media sosial yang banyak digunakan masyarakat adalah Twitter.
Twitter layanan jejaring sosial dan mikroblog yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan berbasis teks hingga 140 karakter, yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet)[1].
Sebuah teks pada tweet tidak hanya menyampaikan keterangan dari suatu informasi, tetapi juga berisi informasi tentang perilaku manusia termasuk emosi.
Emosi merupakan keadaan kompleks dari pikiran yang dipengaruhi oleh peristiwa eksternal, perubahan fisiologis, atau hubungan dengan orang lain.
Dengan tidak adanya kontak tatap muka untuk mendeteksi ekspresi wajah dan intonasi dalam suara, opsi alternatifnya adalah menguraikan emosi dari teks di layanan sosial media.
Studi penelitian pendeteksian emosi telah menyelidiki deteksi emosi dalam prosodi, perubahan keadaan fisiologis, ekspresi wajah dan teks.
Namun, ada kekurangan penelitian dalam mendeteksi emosi dari teks dibandingkan dengan area lain dari deteksi emosi [2].
Untuk mendeteksi emosi dari teks pada layanan sosial media twitter dengan data yang tidak terstruktur maka perlu dilakukan analisis teks salah satunya dengan menggunakan Text Mining.
Text mining mencoba untuk mengekstrak informasi yang berguna dari sumber data melalui identifikasi dan eksplorasi dari suatu pola menarik.
Sumber data berupa sekumpulan dokumen dan pola menarik yang tidak ditemukan dalam bentuk database record, tetapi dalam data teks yang tidak terstruktur.
Beberapa penelititan mengenai deteksi emosi telah dilakukan contohnya padap enelitian yang dilakukan Chaitail G. Patil dan Sandip S.Patil menyebutkan penggunaan metode Support Vector Machine dan dataset ISEAR memiliki akurasi tertinggi yaitu 71.64% sedangkan Metode Naive Bayes Classifier akurasinya 60.8% dan yang terendah pada metode Vector Space Model 34.8% dalam untuk Ekstraksi Emosi dari Headline News [3].
Namun Pada penelitianm Arifin and Ketut Eddy Purnama melakukan Klasifikasi Emosi Dalam Teks Bahasa Indonesia menggunakan metode K-Nearest Neighbour.
Pada penelitian yang dilakukan penulis melakukan klasfikasi emosi pada artikel yang ada diinternet kemudian dilakukan pengujian antara metode Naïve Bayes dengan K-Nearest Neighbour.
Hasil dari penelitian tersebut didapat metode K-Nearest Neighbour menghasilkan nilai akurasi 71.26% yang lebih tinggi daripada metode Naïve Bayes dengan nilai akurasi 58.01% [4].
Berdasarkan latar belakang dan beberapa penelitian sebelumnya maka penulis melalui penelitian ini mengusulkan melakukan penelitian implementasi text mining pada Sosial Media untuk mendeteksi emosi pengguna.
Metode klasifikasi yang digunakan yaitu metode Support Vector Machine untuk klasifikasi kelas emosi dan metode K-Nearest Neighbour untuk klasifikasi kategori emosi.
Metode tersebut digunakan karena metode Support Vector Machine memiliki nilai akurasi tertinggi pada penelitian sebelumnya serta Support Vector Machine secara teoritik dikembangkan untuk problem klasifikasi dengan dua class yang sangat tepat untuk klasifikasi kelas emosi[5].
Sedangkan Metode K-Nearest Neighbour digunakan karena pada penelitian sebelumnya K-Nearest Neighbour memiliki akurasi yang lebih tinggi daripada metode Naive Bayes dan Metode K-Nearest Neighbour melakukan pelatihannya sangat cepat dan Efektif jika data pelatihan besar yang sangat cocok dengan penggunaan ISEAR dataset [6].
Deteksi emosi berbasis teks seperti yang disebutkan sebelumnya dapat digunakan dalam bisnis, pendidikan, psikologi, dan bidang lain mana pun yang paling penting untuk memahami dan menafsirkan emosi.
.
https://www.researchgate.net/publication/333020467_Text_Mining_pada_Sosial_Media_untuk_Mendeteksi_Emosi_Pengguna_Menggunakan_Metode_Support_Vector_Machine_dan_K-Nearest_Neighbour
Analisis sentimen pemilihan presiden Indonesia 2019 di twitter dengan mesin vektor sokongan dan berasaskan leksikon (SVM)
.
Perkembangan media sosial saat ini sangat pesat, dan Twitter adalah media sosial yang banyak digunakan oleh orang dalam menyebarkan maklumat, bahkan dalam proses pemilihan presiden media sosial twitter memiliki peranan penting dalam penyebaran maklumat baik atau jahat untuk menjatuhkan seorang calon presiden.
Kajian ini bertujuan untuk menganalisis semua maklumat yang diperoleh dari Twitter untuk mendapatkan nilai positif dan negatif untuk mendapatkan ramalan elektabiliti calon presiden.
Dalam proses klasifikasi, penyelidikan ini menggunakan kaedah lexicon-base dan mesin sokongan vektor (SVM).
Tahap data pra-proses menggunakan penandaan bahagian-ucapan, ujian chi-square, dan mengumpulkan pendapat mengenai entiti (NN & NNP) yang bertujuan untuk mengelakkan penarikan balik yang rendah dari kaedah berasaskan leksikon.
Data yang digunakan mengambil tweet dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggeris dengan beberapa set data dari 2000 tweet dengan pemisahan dua pendapat dari setiap calon presiden.
Dari ketepatan kekutuban, dapatkan nilai dengan kata kunci jokowi untuk mendapatkan nilai positif 24.10%, negatif 38.30% dan neutral 38.30% sementara untuk kata kunci prabowo ia mendapat nilai positif 0.20%, negatif 0.10% dan neutral 0.70%.
.
https://www.researchgate.net/publication/340639755_Sentiment_analysis_of_Indonesian_presisential_election_2019_on_the_twitter_with_lexicon-based_and_support_vector_machine_SVM
Apa Itu Text Mining?
.
Text mining atau penambangan teks merupakan analisis teks dimana sumber data biasanya didapatkan dari dokumen, dan tujuannya adalah mencari kata-kata yang dapat mewakili isi dari dokumen sehingga dapat dilakukan analisa keterhubungan, keterkaitan dan kelas antar dokumen (Leismester, 2015).
Text mining melingkupi sebuah proses ekstraksi informasi yang terpola yang berasal dari sejumlah besar sumber data teks, seperti dokumen Word, PDF, kutipan teks, atau bahkan sms (Hartanto, 2017).
Dalam aplikasinya di media sosial, text mining di antaranya dapat berupa mencari frekuensi tiap kata dalam kumpulan teks, disebut dengan wordcloud, dan mengindentifikasi emosi dalam kumpulan teks, disebut dengan analisis sentimen.
Pada wordcloud, perhitungan dilakukan pada setiap kata yang kemudian ditampilkan dalam sebuah gambar kumpulan teks yang mana semakin besar frekuensi suatu kata, ukuran kata dalam gambar tadi juga akan semakin besar.
Sementara analisis sentimen, yang merupakan bagian dari opinion mining, adalah
riset komputasional dari opini, sentimen, dan emosi yang diekspresikan secara tekstual (Liu, 2010).
Setiap kata diidentifikasi dan diklasifikasikan dalam emosi netral, positif, dan negatif.
Analisis sentimen dilakukan untuk melihat pendapat terhadap sebuah masalah atau dapat juga digunakan untuk identifikasi kecenderungan hal di pasar (Pang, Lee, & Vaithyanathan, 2002).
Sehingga, suatu organisasi/perusahaan/perorangan ingin memperoleh opini publik mengenai produk, citra, dan layanannya, maka tidak perlu melakukan survei konvensional dan fokus grup yang mahal biayanya (Putranti & Winarko, 2014).
Text mining sendiri mengacu pada penggunaan teknik data mining untuk menemukan pola-pola penting dalam teks.
Hanya saja, tidak seperti pada kasus-kasus penggunaan data mining, data pada penggunaan text mining lebih terstruktur (Azarbonyad, 2013).
Sementara EDUCBA (n.d.) menjelaskan bahwa data mining atau yang dikenal juga sebagai knowledge discovery of data (KDD) merujuk pada proses mengekstrak informasi dari kumpulan data berjumlah besar, seperti big data.
Data mining sering digunakan dalam bidang statistik, machine learning, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Komponen-komponen dalam proses data mining terbagi ke dalam lima level, yaitu
1. pengekstrakan, pengubahan, dan memuat data ke dalam suatu wadah;
2. penyimpanan dan pengelolaan;
3. penyediaan akses data;
4. proses analisis; dan
5. presentasi hasil ke pengguna dalam sebuah user interface.
Kemudian, big data mengacu pada jumlah data yang sangat besar, baik terstruktur, semi-terstruktur, dan tidak terstruktur.
Big data terdiri atas lima V, yaitu:
1. volume, mengacu pada jumlah atau ukuran data yang bisa mencapai triliunan,
2. variety, mengacu pada tipe data yang tidak seperti umumnya, seperti media sosial dan log server web,
3. velocity, mengacu pada kecepatan data tersebut untuk bertumbuh, big data akan selalu tumbuh secara eksponensial pada kecepatan yang sangat tinggi,
4. veracity, mengacu pada ketidakpastian data, sebagai contoh pada media sosial yang kebenaran datanya tidak bisa dipastikan, dan
5. value, mengacu pada data yang disimpan dan diproses harus berarti/berharga dan bagaimana analis mendapatkan manfaat dari jumlah data yang besar tersebut.
.
https://www.researchgate.net/publication/334413557_Analisis_Text_Mining_terhadap_BPS_di_Twitter_Menggunakan_R
Thursday, January 16, 2020
A Systematic Review of Emoji: Current Research and Future Perspectives
.
Abstract
A growing body of research explores emoji, which are visual symbols in computer mediated communication (CMC). In the 20 years since the first set of emoji was released, research on it has been on the increase, albeit in a variety of directions. We reviewed the extant body of research on emoji and noted the development, usage, function, and application of emoji. In this review article, we provide a systematic review of the extant body of work on emoji, reviewing how they have developed, how they are used differently, what functions they have and what research has been conducted on them in different domains. Furthermore, we summarize directions for future research on this topic.
.
.
Computer Science
Research in the field has focused on using emoji for emotional analysis of UGC data, the conversion of emoji to other expression modality, and using emoji for optimizing computer systems.UGC=User-Generated Content.
Sentiment Analysis
With the significant growth of UGC data on the Internet, sentiment analysis which aims at changing this data into valuable asset for decision making, has become increasingly important (Al-Azani et al., 2018). As emoji are widely used in expressing emotions, they have become an effective means of sentiment analysis (Hogenboom et al., 2013; Cappallo et al., 2015). A number of studies have confirmed the effective performance of emoji in sentiment analysis (Sari et al., 2014; Cahyaningtyas et al., 2017; Felbo et al., 2017; LeCompte and Chen, 2017). Besides, emoji-based sentiment analysis is language-independent and exhibits cross-language validity (Guthier et al., 2017), for example, Al-Azani et al. (2018) found that emoji can also be used in analyzing the sentiment of Arabic tweets. However, other studies have shown that using emoji in sentiment analysis leads to higher emotional scores, and that this effect is more pronounced in positive comments (Ayvaz and Shiha, 2017).Many studies have provided algorithms and models for emoji-based sentiment analysis, which mainly uses two kinds of techniques, sentiment lexicon, and machine learning.
The sentiment lexicon method
The sentiment lexicon approach focuses on building an emoji emotional lexicon to support text sentiment analysis. By human annotating, Petra et al. (2015) has classified 751 commonly used emoji and built an emoji lexicon based on the positivity of emoji. But because there are so many emoji, some researchers have come up with ways to build emoji dictionaries automatically.
Jiang et al. (2015) proposed an emoticon space model to automatically match emotional tags for emoji. Kimura and Katsurai (2017) assigned multi-dimensional emotional vectors to emoji by calculating the co-occurrence frequency of emoji and emotional words in WordNet-Affect. Aoki and Uchida (2011) have also automatically generated emoji vectors based on the relationship between emotional words and emoji. By using the Word2Vec clustering method, Mayank et al. (2016) divided emoji into clusters which represent different human emotions.
The machine learning method
The machine learning method refers to train sentiment classifiers based on a corpus in order to analyze the sentiments of text (Wang et al., 2012). Machine learning can be divided into supervised learning and unsupervised learning. They are different in that the former needs a human annotated corpus while the latter doesn’t.
The effectiveness of using emoji as a way of training classifiers has been proven (Hallsmar and Palm, 2016) and furthermore it has been shown that emoji outperform emoticons (Redmond et al., 2017). An example of supervised learning is the emoticon smoothed language model (ESLAM) proposed by Liu et al. (2012), which classifies twitter based on a model trained by a human annotated corpus.
A lot of research has focused on unsupervised learning (Li et al., 2018), and constructed sentiment analysis models trained automatically using emoji data sets. Chen Y. et al. (2018) trained sentiment classifiers by via bi-sense emoji embedding and attention-based long short-term memory network (LSTM) in order to analyze the sentiment of messages on Twitter. Wang et al. (2016) designed a hybrid sentimental entity recognition model (HSERM), which classifies emoji into four different emotional categories, and then categorizes the emotional data based on the model. Some research has focused on the ironic features of emoji and developed an irony detection model for emoji in order to improve the accuracy of sentiment analysis of tweets (Reyes et al., 2013; Prasad et al., 2017; Singh et al., 2019).
Modality Transitions
The visual features and Unicode basis of emoji make them anindependent expressive modality that is different from text andpictures (Cappallo et al., 2019). A lot of research focuses onconversion between emoji and other modalities such as text,picture and video.
For example, Emoji2Video offers a way to search for videosusing emoji (Cappallo et al., 2015). Later research has focusedon the shift from other modalities to emoji. Because of thecorrelation between emotional categories in text and users’ emojiselections, Hayati and Muis (2019) and Zanzotto and Santilli(2018) proposed two different ways to predict emoji based ontext. Kim et al. (2019) developed Reeboc, which can analyze chatcontent, extract different emotions or topics, and then, based onthis, recommend emoji to users. The practice of text-based emojiprediction has also been validated in other languages, such asHebrew (Liebeskind et al., 2019).
System Optimization
Emoji have played a role in improving the performance of computer hardware and software. For example, emoji can be used to achieve diverse in-car interaction design. In order to optimize the functions of the central rear-view mirror, researchers suggest that passengers emotions can be fed back to the driver through emoji and other elements, which can enhance mutual understanding between driver and back-seat passenger (Chao et al., 2019).Furthermore, emoji can also be applied in the area of password security. Kraus et al. (2017) came up with the EmojiAuth project, exploring how the use of emoji affects the availability of mobile authentication and user experience by adding emoji into passwords. Compared with the Standard PIN (Personal Identification Number) input, a password containing emoji is easier to remember and, thus, emoji-based authentication is a practical alternative to traditional PIN authentication.
.
https://www.researchgate.net/publication/336561000_A_Systematic_Review_of_Emoji_Current_Research_and_Future_Perspectives
What is ideograms
.
What is ideograms?
An ideogram or ideograph (from Greek ἰδέα idéa "idea" and γράφω gráphō "to write") is a graphic symbol that represents an idea or concept, independent of any particular language, and specific words or phrases. Some ideograms are comprehensible only by familiarity with prior convention; others convey their meaning through pictorial resemblance to a physical object, and thus may also be referred to as pictograms.
.
https://en.wikipedia.org/wiki/Ideogram
Subscribe to:
Posts (Atom)







